Barongko: Kelezatan dan Nilai Filosofis yang Gurih dalam Setiap Gigitan

Ditulis oleh Andi Rosnaini

Ditulis oleh Andi Rosnaini

13/11/2023

Pada bulan September lalu, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, di bawah kepemimpinan Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, mengumumkan Gerakan Gemar Menanam Pisang (G2MP). Program ini bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan memastikan ketahanan pangan di wilayah Sulsel.

Menurut Bahtiar, pisang adalah komoditas yang mudah dikembangkan dan tidak memerlukan modal besar. Selain itu, masyarakat Sulawesi Selatan telah lama mengkonsumsi pisang dalam berbagai bentuk.

“Pisang adalah buah yang sangat erat dengan budaya masyarakat Sulsel. Hampir semua makanan olahan kami di Sulsel menggunakan pisang sebagai bahan dasar. Namun, budidaya pisang sebagai sumber pencaharian utama masih belum banyak dilakukan,” ujar Bahtiar dilansir dari jpnn.com.

Pisang memang telah menjadi camilan yang disukai banyak orang di berbagai belahan dunia karena dapat diolah dengan mudah, praktis, enak, dan memuaskan rasa lapar. Makassar pun tak mau kalah dalam hal tersebut. Kota yang terkenal dengan ragam kuliner lezat ini memang kaya akan olahan pisangnya. Kebanyakan hidangan kulinernya yang wajib dicoba memiliki sentuhan pisang. Mulai dari pisang muda hingga yang matang, semuanya memiliki cita rasa khas.

Berbicara mengenai camilan berbahan dasar pisang yang berasal dari Makassar, apa yang pertama kali muncul di pikiran ta’? Pisang eppe yang dijajakan di sepanjang Pantai Losari atau es pisang ijo yang cocok dinikmati di segala situasi? Kebanyakan mungkin akan menjawab demikian. Padahal, sebenarnya ada satu hidangan khas yang tak kalah menarik dan mampu memikat selera siapa pun yang mencobanya.

Camilan tersebut bernama Barongko, singkatan dari barangku mua udoko, yang artinya barangku sendiri yang ku bungkus. Kue berwarna putih kekuningan berbentuk segitiga yang dikemas secara tradisional ini memang bahan bakunya adalah pisang dan juga dibungkus dengan daun pisang. Umumnya, pisang yang digunakan adalah jenis pisang kepok yang kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bahan lainnya seperti gula pasir, telur, dan santan.

Meski terkesan mudah dan murah, pada jaman dahulu, Barongko tergolong mewah dan hanya disajikan khusus untuk kaum bangsawan dari kerajaan-kerajaan yang ada di daerah Bugis. Umumnya raja-raja Bugis menikmati panganan yang berbahan pokok pisang yang dihaluskan ini sebagai makanan penutup (dessert).

Barongko memang mampu memanjakan lidah dengan rasa yang manis, lembut, dan dingin. Terlebih lagi terdapat aroma khas Barongko yang berasal dari daun pisang yang membungkusnya.

Kini ketika siapapun bisa menikmati Barongko, kue ini justru tak semudah itu ditemukan. Masyarakat bugis biasanya menyajikan kue ini dalam rangka acara pernikahan atau khitanan. Alasan kue ini sering dihadirkan dalam acara perjamuan pun tak sembarangan. Hal itu tidak terlepas dari nilai filosofis Barongko yang sangat tinggi.

Kembali lagi, bahan utamanya adalah pisang dan bungkusannya pun terbuat dari pisang menekankan bahwa apa yang terlihat di luar harus sama dengan apa yang tersimpan di dalam diri kita, apa yang terpikirkan dan yang dirasakan haruslah selaras dengan tindakan yang akan dilakukan. Dengan menyajikan barongko, diharapkan tuan rumah mencerminkan filosofis tersebut.

Saat ini, kue Barongko telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Penetapan ini diberikan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya di Indonesia.

Penulis: Andi Rosnaini

Share To:

LANGGANAN DI SUREL KAMI

Tetap selalu update dengan langganan dengan kami. Anda akan mendapatkan email berita terbaru dari kami

Lintas Artikel

Olahraga

Gaya Hidup

Hiburan

Musik

Fashion

Scroll to Top