Cerita Pandigram : Ruang Guyub Desainer Grafis se Kota Makassar.

Di era digital seperti sekarang profesi Desain grafis telah menjadi sangat digemari oleh berbagai kalangan.
Desainer grafis adalah orang yang menekuni atau bergelut di industri kreatif, bertanggung jawab dalam membuat konten visual sesuai media yang dibutuhkan seperti desain logo, poster, post sosial media, dan lainnya.
Ada berbagai alasan yang menjadikan profesi ini cukup populer, Kemampuan untuk menyampaikan pesan kompleks dalam bentuk yang sederhana dan menarik membuat desain grafis sangat dicari. Ini berlaku tidak hanya dalam pemasaran dan branding bisnis, tetapi juga dalam berbagai konteks lain seperti pendidikan, pemerintahan, dan sosial.

Di kota Makassar profesi ini pun kian menjadi, banyak yang menekuni profesi ini bahkan hingga berkelas internasional, melayani permintaan perusahaan ternama multi global.
Menariknya di Makassar ada komunitas untuk para desainer grafis yakni Pandigram di mana desainer grafis Kota Makassar saling bertukar pikiran, berkolaborasi.
Dengan format komunitas, Pandigram saat ini merangkul berbagai latar belakang desainer grafis yang berbeda-beda. Ada yang merupakan luaran dari akademik desain grafis, industri desain grafis, desainer grafis otodidak, serta siapa saja yang memiliki impresi terhadap keilmuan ini.
Akhmad Taufiq sebagai co-founder Pandigram, bercerita bahwa Pandigram secara keanggotaan tidak memiliki status yang terkesan membatasi, sehingga siapa siapa saja bisa berkontribusi pada setiap aktivitas yang dilaksanakan oleh pandigram.

“Walaupun seperti itu, ada banyak orang yang telah terlibat di Pandigram dengan perkiraan sekitar 120an orang,” ujar Akhmad.
Juga ada beberapa co-founder yang senantiasa turut secara masif menghidupkan dan mengkatalisasi aktivitas di Pandigram seperti Fandy, Agung Alfata, Shenno, Aswad, Edo, Yayat, Gusnil, Erbe, Firna, Zhegaf.
Untuk saat ini pandigram telah menjalankan berbagai aktivitas atau program, salah satunya yang paling masif adalah diskusi yang telah diadakan 5 edisi.
Dengan topik yang berbeda-beda serta bahasan yang interdisiplin berguna untuk membuka wawasan desainer grafis secara luas sehingga banyak potensi yang dapat dieksplorasi.

Adapun yang menjadi topik bahasan pada 5 edisi tersebut antara lain: 1) Fundamental Desain Grafis: Amalgamasi Akademik, Industri & Sosial Budaya (Rahmat Zulfikar); 2) Proses Desain Branding Ibu Kota Nusantara (Aulia Akbar); 3) Tersesat di Tata Kota: Desain Urban & Relevansi Desain Grafis Terhadap Identitas Kota (Yulianti Tanyadji); 4) Tapak Tilas Industri Kreatif Kota Daeng & Peran Strategis Desain Grafis (Akbar Zakaria); 5) Merefleksi Gelagat Desain Grafis Nusantara (Aulia Akbar).
Dari lima edisi tersebut ada yang dilaksanakan secara daring dan adapun secara luring. menurut database yang telah kami kumpulkan bahwa dari 5 edisi tersebut banyak audien yang ikut pada kegiatan tersebut, perkiraannya secara akumulatif sekitar kurang lebih 500an orang.
“Tentu dengan antusiasme ini menjadi semangat bagi teman-teman pandigram untuk terus mengamplifikasi wacana-wacana keilmuan desain grafis di Kota Makassar,” jelas Akhmad.

Selain itu ada juga beberapa kerjasama yang telah dilakukan oleh beberapa instansi & komunitas seperti teman jalan makassar, Ja&joy, Honda, dan Bervakansi Authenticity. bentuk kerjasama yang dilakukan berbeda-beda, ada yang membuat zine, mengisi item kegiatan Lokakarya, dan menjadi narasumber pada kegiatan tersebut.
Harapannya dengan adanya pandigram bisa terus menjadi katalis buat teman-teman desain grafis di Kota Makassar untuk selalu menyuarakan wacana keilmuan desain grafis agar dapat memiliki pengetahuan yang mapan secara kolektif, entah itu pelaku desain grafis maupun seluruh pemangku kepentingan yang bersinggungan dengan desain grafis.
Satu dari banyak manfaat berkomunitas profesi anda dapat mempelajari hal baru, memperluas koneksi atau networking.
Saat berada di komunitas, anda dapat berkenalan dengan orang-orang di dalamnya dan membantumu mengakses segala hal yang sebelumnya belum anda jangkau.


