MAKASSAR, 9 Desember 2025 – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar mengambil langkah signifikan untuk memperkuat identitas budaya daerah dengan menggelar Pelatihan Batik Lontara. Kegiatan ini merupakan upaya strategis pelestarian dan pengembangan wastra khas daerah, sekaligus menjaga keberadaan Aksara Lontara agar tidak tergerus zaman.
Pelatihan bertajuk “Tulis Lontara di Kain, Batik Bercerita, Nilai Terwariskan” ini dilaksanakan selama empat hari penuh, mulai 9 hingga 12 Desember 2025, bertempat di Baruga Anging Mammiri.
Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia mengatakan Makassar memiliki sejarah dan peradaban yang sangat bernilai, salah satunya melalui keberadaan aksara Lontara yang menjadi identitas masyarakat Bugis-Makassar sejak berabad-abad lalu.
Aksara Lontara: Warisan Kebanggaan dan Media Modernisasi
Melinda Aksa menyebutkan bahwa tidak semua daerah di Indonesia memiliki aksara daerah. Dari 817 bahasa daerah yang tercatat, hanya 12 yang memiliki aksara. Mengenai hal ini, ia mengungkapkan kebanggaannya:
“Kita patut bangga sebagai suku Bugis-Makassar karena memiliki aksara yang masih terjaga hingga hari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelestarian aksara Lontara perlu terus diupayakan agar tidak hilang ditelan zaman. Pelatihan ini menjadi salah satu terobosan penting untuk memodernkan aksara Lontara agar lebih dekat dengan generasi muda. Pengembangan motif batik dinilai menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan kembali aksara tersebut melalui fashion.
Meskipun mengakui Makassar bukan daerah pembatik tradisional seperti Jawa, Melinda berharap dapat mendorong lahirnya identitas baru melalui Batik Lontara:
“Melalui pelatihan ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik lontara juga dapat dibuat lebih modis, berkelas, dan wearable untuk berbagai kesempatan,”.
Ia juga menegaskan bahwa Pemkot Makassar telah mewajibkan penggunaan batik Lontara setiap hari Kamis. Namun, produksi perajin lokal masih terbatas sehingga banyak pegawai memakai batik print yang dibuat di Jawa. Kondisi ini diharapkan berubah.
Melinda berharap setelah pelatihan ini, Pemkot dapat lebih tegas mendorong penggunaan batik Lontara hasil kriya perajin Makassar di lingkungan pemerintah kota. Hal ini sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi kreatif daerah.
Rangkaian Acara Kunci
Pelatihan intensif selama empat hari ini dirancang untuk mencetak perajin batik Lontara yang inovatif dan siap bersaing, meliputi:
- Pelibatan Peserta: Diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas perajin baru maupun perajin yang telah mahir.
- Materi Komprehensif: Peserta mendapatkan materi teknik membatik, pengembangan motif, hingga inovasi pewarnaan yang lebih modern.
- Apresiasi Perajin Lokal: Ketua Dekranasda memberikan apresiasi kepada Tendri, satu-satunya pembatik Lontara di Makassar yang konsisten mengembangkan batik lontara.
Jadikan Aksara Lontara Gaya Hidup Baru Anda! Dukung Warisan Budaya Bugis-Makassar dengan memilih dan mengenakan Batik Lontara hasil kriya perajin lokal. Mari bersama lestarikan aksara, perkuat ekonomi kreatif, dan tunjukkan identitas Bangsa!


